Warga mengenakan masker saat mengunjungi Gedung Opera Sidney pada 03 January 2021. Pemerintah Australia tetap menerapkan kewajiban mengenakan masker meski penularan Covid-19 di negara itu tergolong rendah. | EPA-EFE/PAUL BRAVEN EPA-EFE/PAUL BRAVEN AUST
19 Jan 2021, 02:00 WIB

Australia Batasi Wilayah Selama 2021

Sejumlah negara dilaporkan kembali memperpanjang lockdown wilayah.

SYDNEY -- Australia mungkin tidak akan sepenuhnya membuka perbatasan internasionalnya sepanjang 2021. Pembatasan akan tetap dilakukan meski sebagian besar populasi telah mendapat vaksin Covid-19.

"Bahkan, jika kami memiliki banyak populasi yang telah divaksinasi, kita tidak tahu apakah itu akan bisa mencegah penularan virus," kata Menteri Kesehatan Australia Brendan Murphy, Senin (18/1), kepada Australian Broadcasting Corp.

Pada Senin, Australia mencatat nol kasus Covid-19 lokal. Australia termasuk berhasil dalam menekan laju penyebaran virus korona. Negara itu memberlakukan penerapan karantina wilayah atau lockdown terbidik yang diiringi dengan tingginya angka tes dan penelusuran kontak.

Negara bagian Victoria, yang menjadi tuan rumah acara Australia Open, melaporkan empat kasus positif yang berasal dari pendatang dari luar negeri. Semua kasus itu terkait dengan tenis. Insiden itu membuat tiga pesawat carteran untuk Australia Open dikarantina secara ketat. Lebih dari 70 pemain tenis juga harus menjalani isolasi di kamar hotel selama 14 hari. 

Terkait

"Saya tahu ada sebagian pemain (tenis) yang menggerutu tentang aturan ini. Namun, aturan itu diterapkan kepada mereka seperti halnya juga diterapkan kepada siapa pun," ujar Perdana Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews. 

photo
Petugas kesehatan melakukan tes usap Covid-19 terhadap warga secara drive thru di Murarrie, Brisbane, Queensland, Australia, pekan lalu.- (EPA-EFE/ALBERT PEREZ AUSTRALIA AND NEW ZEALAN)

Australia akan memulai imunisasi Februari. Pemerintah menyadari adanya laporan efek samping yang tidak diharapkan dari vaksin produksi Pfizer yang terjadi di Norwegia. Saat berita ini ditulis, 30 penerima vaksin berusia lanjut dilaporkan meninggal dunia. Sementara, Inggris juga enggan terburu-buru melonggarkan lockdown berskala nasional meski telah melakukan vaksinasi Covid-19. Mereka kemungkinan baru akan memperlunak peraturan lockdown pada Maret.

“Pada awal musim semi, semoga pada Maret, kami akan berada dalam posisi untuk membuat keputusan itu. Saya pikir benar untuk mengatakan kita tidak akan melakukan semuanya dalam satu ledakan besar," kata Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab saat diwawancara Sky News pada Ahad (17/1).

Menurut laporan the Sunday Times, para menteri Inggris telah menyepakati tiga indikator yang harus terpenuhi sebelum lockdown dicabut pada Maret. Pertama, diizinkan memperlunak atau mencabut lockdown jika tingkat kematian akibat Covid-19 menurun.

Kedua, jumlah pasien yang harus dirawat di rumah sakit berkurang. Terakhir, beberapa orang berusia antara 50 dan 70 tahun telah divaksinasi.

photo
Anggota parlemen Inggris mengenakan masker dan menerapkan jaga jarak dalam sesi dengar pendapat dengan Perdana Menteri Borris Johnson, Rabu (13/1). - (AP/JESSICA TAYLOR/House of Commons)

Austria memperpanjang penerapan karantina wilayah atau lockdown hingga Februari. Perpanjangan itu merupakan ketiga kalinya perpanjangan dilakukan. “Kita memiliki dua hingga tiga bulan yang sulit di depan,” kata Kanselir Austria Sebastian Kurz dalam sebuah konferensi pers, Ahad (17/1).

Perkembangan berbeda dilaporkan di Belanda. Sekitar 2.000 warga Amsterdam, Belanda, menggelar aksi protes lockdown nasional pada Ahad. Aksi itu dibubarkan karena dianggap ilegal.

Pengunjuk rasa berkumpul di alun-alun di depan galeri seni Rijksmuseum dan Museum Van Gogh. Mereka membawa tanda bertuliskan "Kebebasan: hentikan pengepungan ini" dan meneriakkan "Apa yang kita inginkan? Kebebasan!".

Tak seorang pun pengunjuk rasa itu memakai masker. Belanda memang tidak mewajibkan pemakaian masker. Hanya beberapa orang yang terlihat menjaga jarak. Hal ini membuat pihak berwenang membubarkan aksi.

Saat berita ini ditulis, data John Hopkins University menunjukkan ada lebih dari 95,1 juta kasus Covid-19 global. Angka terbanyak dialami Amerika Serikat, yaitu 23,9 juta kasus, lalu disusul India 10, 57 juta kasus.

HRW Desak Israel 

Organisasi hak asasi manusia (HAM) Human Rights Watch (HRW) mendesak Israel menyediakan vaksin Covid-19 untuk lebih dari 4,5 juta warga Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Menurut HRW, Israel mengabaikan penderitaan orang-orang Palestina yang hidup di bawah kekuasaan militernya.

"Sementara Israel telah memvaksinasi lebih dari 20 persen warganya, termasuk pemukim Yahudi di Tepi Barat, Israel belum berkomitmen untuk memvaksinasi warga Palestina yang tinggal di wilayah pendudukan yang sama di bawah kekuasaan militernya," kata HRW dalam sebuah pernyataan pada Ahad (17/1), dikutip laman Anadolu Agency.

HRW meminta Israel memenuhi kewajibannya berdasarkan Konvensi Jenewa Keempat, yaitu memastikan pasokan medis kepada wilayah yang diduduki. Sebelumnya, seruan serupa juga datang dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan lembaga HAM, Amnesty International.

Terkait hal itu, Menteri Kesehatan Israel Yuli Edelstein mengatakan, Palestina harus belajar mengurus rakyatnya sendiri daripada mengharapkan bantuan vaksin dari negaranya. Menurut dia, sejak awal pandemi Israel telah membantu Palestina, seperti memberikan peralatan kesehatan, obat-obatan, dan saran-saran dari para ahli.

 

Sumber : Reuters


×