Seorang paramedis Palestina mengambil sampel saat melakukan tes usap di salah satu masjid di Gaza Senin (21/9). | AP/Khalil Hamra

Kisah Mancanegara

Naela dan Salma Melawan Stigma di Gaza

Masyarakat di Gaza sudah mulai menerima perubahan peran perempuan karena alasan ekonomi.

OLEH DWINA AGUSTIN 

Bagi Naela Abu Jibba (39 tahun) menelusuri jalan menjadi bagian dari hidupnya. Ibu dari lima anak ini hidup dan bekerja di Jalur Gaza sebagai pengemudi taksi perempuan pertama di negerinya.

"Saya mendapat banyak komentar mencibir (di media sosial), namun komentar yang mendukung justru jauh lebih banyak," ujarnya kepada Reuters, November lalu.

Banyak pelanggannya yang perempuan merasa lebih nyaman dengan taksi yang dikemudikan Naela. Ini diakui salah satu pelanggannya, Sousan Abu Ateila (28). "Kami merasa lebih nyaman," ujar Sousan. 

Naela memiliki ijazah sarjana bidang pelayanan masyarakat. Ia menjadi pengemudi taksi setelah gagal mencari pekerjaan. 

“Saya menikah di usia muda dan setelah anak-anak saya besar, saya masuk universitas untuk belajar ilmu sosial guna mencari pekerjaan dengan ijazahnya,” kata Naela dikutip Aljazirah, Senin (30/11). Tingkat pengangguran di Gaza pada kisaran 29 persen. Kesulitan hidup kian berat di tengah blokade Israel dan Mesir. 

Naela memakai jilbab dan masker saat bertugas. Saat ini, ia masih mengendarai mobil Kia warna putih tulang miliknya. Naela dikenal di keluarganya dengan julukan "al-Mukhtara" atau orang pilihan. Ia memang kerap menangani pertikaian di antara anggota keluarga.

photo
Seorang dokter Palestina Maha Abu Jahal mengambil sampel anak-anak sebelum mereka menyeberangi perbatasan Rafah di Jalur Gaza, pekan lalu. - (EPA)

Kini, Naela bermimpi bisa mengembangkan taksinya. Tentu saja, dengan taksi lebih dari satu unit. "Mimpi saya adalah bisa memiliki satu armada al-Mukhtara," ujarnya.

Kisah juga diuntai Salma al-Najjar (15). Ia adalah penjaga pom bensin di Gaza mulai November lalu. Bagi Salma, dia ingin menantang aturan di masyarakatnya yang membatasi beberapa profesi hanya untuk laki-laki. Saat ini, gadis belia ini memang belum menghadapi tuntutan kebutuhan ekonomi.

“Dengan dukungan keluarga saya, tujuan pertama saya adalah berkontribusi pada perubahan yang diperlukan dalam kesan komunitas tentang pekerjaan perempuan,” katanya dikutip Aljazirah

Pemilik pom bensin, Mohammed al-Agha, adalah kerabat Salma. Dia mengaku memperkerjakan perempuan di stasiun pengisian bahan bakar umum merupakan tantangan karena masyarakat tidak akan menerimanya. 

"Saya dan semua karyawan laki-laki mendukung Salma dan kami mendorong gadis-gadis lain untuk mencoba pekerjaan di sini, sehingga komunitas akan menerima wanita melakukan pekerjaan ini karena menerima dokter wanita, insinyur, sekretaris, pekerja sosial dan lain-lain," ujar al-Agha. 

Aktivis dan konsultan hak asasi manusia, Azza Qassem, mengatakan, mungkin sulit bagi sebagian warga Palestina untuk menerima perempuan melakukan pekerjaan nontradisional. Namun, perubahan akan terjadi secara bertahap. 

“Secara umum, masyarakat di Gaza sudah mulai menerima perubahan peran perempuan karena alasan ekonomi, karena banyak perempuan yang mengepalai keluarga dan suami atau anak merasa frustrasi karena tidak mendapatkan kesempatan kerja,” kata Qassem. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat