Ilustrasi PTKIN | ANTARA FOTO/FENY SELLY
01 Dec 2020, 13:00 WIB

PTKIN Ditargetkan Jadi Unggulan Kelas Dunia

Semua program dan anggaran harus diarahkan untuk meningkatkan akreditasi PTKIN.

JAKARTA – Ada tiga target yang dicanangkan Kementerian Agama (Kemenag) terhadap perguruan tinggi keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dalam rentang waktu 2020-2034. Target tersebut di antaranya menjadikan PTKIN memiliki daya saing di tingkat nasional, ASEAN, dan dunia.

"Roadmap Direktorat PTKI pada tahun 2020-2024, PTKIN harus memilki daya saing tingkat nasional dan indikatornya adalah akreditasi," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenag Nizar Ali melalui siaran pers yang diterima Republika, Senin (30/11).

Nizar mengatakan, semua kegiatan, program, dan anggaran harus diarahkan untuk meningkatkan akreditasi PTKIN. Maksimalkan dulu akreditasi program studi maka akreditasi institusi akan menjadi lebih baik.

Sementara itu, pada tahap kedua, yakni 2025-2029, PTKIN harus sudah memilki daya saing minimal di tingkat Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Tahap ketiga, 2030-2034, PTKIN harus sudah mencapai level dunia atau yang disebut World Class University.

Terkait

"Untuk itu kreativitas dan inovasi perlu dibangun oleh semua unsur pimpinan," ujarnya. 

Nizar mengingatkan, semua pihak harus saling dukung, bahu-membahu, dan bekerja keras untuk menjadikan PTKIN menjadi maju dan berkualitas.

Mantan direktur jenderal penyelenggaraan haji dan umrah Kemenag ini juga menyoroti tata kelola PTKIN. Menurut dia, pengelolaan PTKIN harus transparan, akuntabel, partisipatif, serta berorientasi pada penjaminan mutu dan relevansi.

"Penataan tata kelola yang ideal basisnya bukan secara top-down melainkan bottom-up," ujarnya.

photo
Peserta berusaha melakukan manuver dengan prototipe kapal penyelamat rakitannya dalam Kontes Nasional Kapal Cepat Tak Berawak di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, Sabtu (7/11/2020). Perlombaan yang menilai kecepatan, desain dan kemampuan bermanuver kapal cepat tak berawak tersebut diikuti puluhan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia - (ARI BOWO SUCIPTO/ANTARA FOTO)

Dalam pandangan Cendekiawan Muslim Prof Komaruddin Hidayat, perlu perumusan kriteria dan target terlebih dulu untuk menciptakan PTKIN unggulan yang ingin dicapai. 

"Kalau hanya statement bersifat normatif dan umum, kita sulit mengukur capaiannya," ujar rektor Universitas Islam Internasional Indonesia ini.

Dia juga mengingatkan, jumlah PTKIN itu begitu banyak dan tersebar di berbagai daerah. Kondisi demikian menjadi dasar untuk mempertimbangkan apakah kriteria unggulan itu harus diseragamkan atau didesain agar masing-masing punya distingsi dan karakter yang berbeda. 

Menurut mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu, kriteria PTKIN unggulan harus tetap memperhatikan potensi dan karakter yang dimiliki masing-masing PTKIN. Misalnya, ada PTKIN yang diberi mandat untuk memproduksi ilmu pengetahuan bertingkat internasional sebagai pembawa pertumbuhan ilmu keislaman Indonesia ke mancanegara. 

Sedangkan sebagian PTKI yang lain, lanjut Komaruddin, bisa lebih diarahkan untuk melakukan pengembangan dan pembinaan terhadap lembaga-lembaga pendidikan di dalam negeri. Tujuannya, agar PTKIN dirasakan kontribusinya bagi masyarakat dan institusi keilmuan di sekitarnya.

photo
Ketua tim peneliti Melania Suweni Muntini memperlihatkan alat detektor genangan air atau Standing Water Detector (SWD) di laboratorium Departemen Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jawa Timur, Kamis (26/11/2020). Alat detektor genangan air (SWD) hasil kerja sama ITS dengan Puslitbang Transportasi Udara, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan tersebut sebagai upaya mendukung keselamatan transportasi udara yang mampu mendeteksi ketinggian genangan air hujan pada landasan pacu pesawat sehingga dapat memberikan informasi kepada pilot untuk bisa atau tidaknya melakukan pendaratan - (MOCH ASIM/ANTARA FOTO)

Sementara itu, Rektor UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Prof Fauzul Iman, berpendapat, PTKIN dapat mendunia dengan memperkuat sumber daya manusia (SDM) dan sarana. Penguatan ini akan berpengaruh dari sisi akreditasi.

Selain itu, menurut Fauzul, diperlukan anggaran untuk peningkatan akreditasi dan riset ilmiah. Di tingkat ASEAN, diperlukan penguatan di bidang riset dan pelatihan penulisan jurnal.

"Penguatan riset, penguatan anggaran, sarana dan pelatihan agar akreditasi meningkat. Bagi yang meningkat diberikan reward," ucapnya.

Menurut Iman, beberapa kampus UIN sudah dalam proses peningkatan yang mampu bersaing menjadi perguruan tinggi besar. Namun, ada kampus lain yang masih berada di tingkat rendah. Untuk itu, diperlukan kolaborasi antar-UIN agar saling menguatkan menuju tingkat yang lebih tinggi. 

"Harus diberikan dorongan, diperkuat dengan sesama UIN. Dibutuhkan perhatian dari pusat untuk membangun kolaborasi penguatan UIN."


×