Sejumlah massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Umat Islam saat melakukan unjuk rasa di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (2/11). | Republika/Putra M. Akbar
03 Nov 2020, 05:10 WIB

Aksi Kecam Macron Meluas

Selain aksi di jalanan, kecaman ke Macron dari tokoh-tokoh di Tanah Air terus mengemuka.

JAKARTA -- Aksi mengecam Presiden Prancis Emmanuel Macron dan seruan pemboikotan produk-produk Prancis terus terjadi di berbagai daerah. Jakarta, Bandung, dan Surabaya jadi pusat aksi-aksi tersebut, Senin (2/11).

Di Jakarta, massa dari sejumlah elemen menggelar demonstrasi di Simpang Sarinah, Jakarta Pusat, Senin (2/11) siang. Pengunjuk rasa sejatinya hendak menggelar demonstrasi di depan gedung Kedutaan Besar Prancis. Namun, mereka tak bisa mendekati gedung itu karena aparat memasang barikade kawat berduri. Alhasil, massa menggelar aksi orasi di Simpang Sarinah, sekitar 200 meter dari gedung Kedubes Prancis. 

Massa yang mayoritas menggunakan pakaian berwarna putih itu berorasi dan membacakan shalawat. Sebagian tampak membawa spanduk berisi kecaman terhadap Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Ustaz Haikal Hasan, salah seorang pimpinan aksi, menitipkan surat untuk duta besar Prancis kepada Direktur Intelkam Polda Metro Jaya Kombes Pol Hirbak Wahyu Setiawan. “Ini surat untuk Kedutaan Besar Prancis. Tolong berikan kepada Duta Besar Prancis. Setelah ini kami membubarkan diri," kata Ustaz Haikal kepada Hirbak. Setelah penyerahan ini, massa membakar foto Presiden Prancis Emmanuel Macron sebelum membubarkan diri.

Terkait

photo
Sejumlah massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Umat Islam saat melakukan unjuk rasa di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (2/11). Pada aksi tersebut mereka mengecam dan memprotes pernyataan Presiden Perancis Emmanuel Macron yang dinilai menghina Islam dan Nabi Muhammad SAW. - (Republika/Putra M. Akbar)

Ratusan massa juga menggelar aksi bela Nabi Muhammad SAW di depan kantor Konsulat Jenderal Prancis, Jalan Mawar, Surabaya, Jawa Timur, Senin (2/11). Koordinator aksi, Devi Kurniawan, mengatakan, ada tujuh poin tuntutan yang disuarakan dalam aksi tersebut.

Di antaranya berupa ajakan gerakan untuk memboikot seluruh produk yang berasal dari Prancis. Poin berikutnya, mendukung Presiden Joko Widodo  memberikan teguran dan peringatan kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron. "Selain itu, menuntut Presiden Macron menyampaikan permohonan maaf kepada umat Islam di seluruh dunia," ujar Devi.

"Kita sebagai manusia sudah seharusnya saling menghargai dan tidak memantik kebencian, terutama dalam menghadapi pandemi Covid-19. Dunia membutuhkan persatuan dan kerja sama, bukan permusuhan dan kebencian," kata Devi.

Massa yang berasal dari sejumlah organisasi Islam di Jawa Barat juga menggelar unjuk rasa di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (2/11). Dalam aksinya, ratusan massa itu berorasi mengutuk pemerintahan Prancis yang dinilai melecehkan Islam. Mereka pun menginjak dan membakar foto Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Menurut koordinator lapangan aksi unjuk rasa, Dany Ramdhani, pernyataan Presiden Prancis tersebut sangat melukai hati umat Islam pada bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. "Kami meminta Presiden Prancis meminta maaf dan mencabut pernyataannya yang telah menghina Islam dan Nabi Muhammad SAW," kata dia.

photo
Massa membakar foto Presiden Prancis Emmanuel Macron saat unjuk rasa mengutuk pernyataan Emmanuel Macron yang dinilai menghina umat Islam karena membiarkan publikasi karikatur yang melecehkan Nabi Muhammad SAW, di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin (2/11). Aksi tersebut di antaranya menyerukan kepada umat agar memboikot produk Prancis dan meminta agar Macron meminta maaf kepada umat Islam - (Edi Yusuf/Republika)

Aksi-aksi kemarin merupakan respons atas pernyataan yang dikeluarkan Presiden Prancis, beberapa waktu lalu. Saat itu Macron mengeklaim dalam pidatonya bahwa Islam dalam krisis global dan mengumumkan rencananya 'mereformasi Islam' agar lebih sesuai dengan nilai-nilai republik negaranya. Macron juga menyatakan dukungannya terhadap penerbitan karikatur Nabi Muhammad oleh majalah satire Charlie Hebdo dengan dasar kebebasan berekspresi. 

Sejumlah aksi kekerasan terjadi di Prancis selepas pernyataan tersebut. Di antaranya pembunuhan terhadap guru yang menampilkan karikatur tersebut di kelas, kemudian pembunuhan terhadap tiga pengunjung Gereja Notre Dame di Nice pekan lalu. 

Selepas muncul kecaman dari negara-negara mayoritas Muslim, Macron kemudian menyampaikan klarifikasinya melalui wawancara dengan Aljazirah. "Saya memahami sentimen yang diungkapkan dan saya menghormati mereka. Namun, Anda juga harus memahami peran saya sekarang, mempromosikan ketenangan dan melindungi hak-hak ini (kebebesan berbicara)," kata Macron, Ahad (1/11).

Macron mengaku akan selalu membela negaranya akan prinsip kebebasan berbicara, menulis, berpikir, dan menggambar. Meskipun kini ia menyadari bahwa pembelaannya terhadap karikatur Nabi Muhammad SAW telah membuat marah umat Islam di seluruh dunia. Karikatur itu, ujar Macron, bukan proyek pemerintah, melainkan muncul dari surat kabar bebas dan independen yang tidak berafiliasi dengan pemerintah.

photo
Sejumlah massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Umat Islam menunjukan poster saat melakukan unjuk rasa di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (2/11).  - (Republika/Putra M. Akbar)

Selain aksi di jalanan, kecaman dari tokoh-tokoh di Tanah Air terus mengemuka. Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan sangat tak setuju jika Nabi Muhammad SAW dibuatkan karikatur atas dasar kebebasan berekspresi.

“Tindakan itu sangat melukai, menghina, melecehkan, bahkan menantang umat Islam di seluruh dunia. Ini sungguh serius, saya tidak mendramatisasi dan melebih-lebihkan,” ujar SBY lewat keterangan resminya, Senin (2/11).

"Terkait hubungan negara Barat dan Islam, perlu dibangun jembatan atau dialog di antara keduanya. Agar saling memahami dan saling mendengar satu sama lain, sehingga benturan antarkeyakinan dan identitas tidak makin menjadi-jadi," kata SBY.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Abdul Mu'ti menyampaikan, kemarahan umat Islam terhadap Presiden Prancis harus tetap terukur. "Sesuai koridor hukum serta mencerminkan keadaban dan keluhuran akhlak Islam yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad," kata Prof Mu'ti kepada Republika, Senin (2/11).

Katib 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menilai Indonesia perlu melakukan diplomasi yang lebih progresif. "Kalau hanya mengecam, Indonesia hanya ikut arus, ikut-ikutan saja. Indonesia punya tanggung jawab dan posisi moral untuk bertindak untuk mencegah kekacauan dan instabilitas lebih parah," kata dia kepada Republika, Senin (2/11).

Indonesia, Kiai Yahya melanjutkan, juga bertanggung jawab mengupayakan adanya jalan keluar atas ketegangan yang cenderung menjurus pada konflik itu. “Dubes kita justru harus diberi instruksi untuk melakukan diplomasi lebih progresif dalam menarik Pemerintah Prancis ke dalam kerangka solusi tawaran Indonesia," ujar dia. 

Muslim Prancis kian tertekan

Sementara, Muslim Prancis merasa tertekan dengan serangan-serangan mengerikan yang terjadi bulan lalu. Muslim Prancis pun kini semakin dicurigai setelah dua serangan pemenggalan dua pekan berturut-turut.

Presiden Prancis Emmanuel Macron juga melanjutkan penindakan kerasnya. Proyek yang ia sebut memberantas 'separatisme' ini membuat Muslim di Prancis kian terjepit.

"Ini sangat mengkhawatirkan bagi umat Islam, beberapa berbicara mengenai meninggalkan Prancis. Situasinya tegang, ada ketakutan di sini," kata sosiolog Hicham Benaissa, seperti dikutip Channel News Asia, Senin (2/11).

Ketegangan semakin meningkat setelah pembunuhan guru Samuel Paty yang dilakukan remaja asal Chenchen. Disusul pula serangan di gereja Katolik Nice yang menewaskan tiga orang.

Islam merupakan agama terbesar kedua di Prancis. Prancis pun menjadi satu di antara negara-negara dengan populasi Muslim terbanyak di Eropa Barat. Diskriminasi membayangi kehidupan Muslim Prancis. Padahal, Prancis mengedepankan sekularisme yang melindungi kebebasan beragama.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sekularisme menjadi alasan pemerintah untuk menekan Muslim.

Tokoh-tokoh Muslim Prancis mengecam serangan terhadap Paty dan di gereja Katolik Nice. Imam Masjid Ar-Rahma di Nice, Otman Aissaoui mengatakan, buntut dari serangan tersebut, umat Islam di Prancis semakin mendapat stigma negatif.

Pernyataan Aissaoui mencerminkan ketidaknyamanan Muslim Prancis, yang sebagian besar berasal dari negara jajahan Prancis di Afrika utara. "Muslim tidak bersalah atau bertanggung jawab. Kami tidak boleh menjustifikasi diri kami sendiri," kata pejabat  Dewan Peribadatan Muslim Prancis (CFCM), Abdallah Zekri.

Rencana 'separatisme' Macron yang akan mengatur organisasi Muslim di Prancis, mulai dari pelatihan imam hingga pengelolaan asosiasi Muslim, telah menimbulkan perpecahan. Rencana itu fokus pada sekularisme Prancis yang dikenal dengan sebutan laicite. "Kehadiran Islam bukan sesuatu yang diramalkan masyarakat Prancis," kata imam dari Bordeaux, Tareq Oubrou.

Ketegangan di Prancis sudah meningkat sejak beberapa tahun terakhir, khususnya setelah perubahan undang-undang sekularisme tahun 2004. UU tersebut melarang pemakaian kerudung di ruang kelas dan larangan cadar pada 2011.

Sikap Macron membuat hubungan Prancis dengan sejumlah negara renggang. Prancis bahkan sempat menarik duta besarnya dari Turki, menyusul kecaman yang dilayangkan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Kendati demikian, Prancis kini memutuskan akan mengembalikan dubesnya untuk Turki. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Yves Le Drian mengatakan, duta besarnya telah dikirim kembali ke Ankara, Turki. "Tidak mungkin mempertahankan kesalahpahaman," ujar Le Drian, dikutip laman Middle East Monitor pada Senin (2/11).

Sebanyak tiga orang tewas dalam aksi penusukan di sebuah gereja di Nice. Otoritas Prancis telah menahan dua orang terkait penyerangan tersebut.

Hubungan Turki dan Prancis memanas menyusul kecaman yang dilayangkan Erdogan terhadap Macron. Erdogan mengkritik keras pernyataan Macron yang bernuansa sentimen anti-Islam saat menghadiri acara penghormatan terhadap Samuel Paty. Paty adalah guru yang dipenggal oleh muridnya setelah menunjukkan karikatur Nabi Muhammad SAW di dalam kelasnya.

Macron memandang peristiwa itu sebagai serangan teroris Islam. Erdogan kemudian menentang keras pernyataan Macron. Dia menyebut Macron membutuhkan pemeriksaan mental. Erdogan pun menyerukan umat Islam agar memboikot produk-produk Prancis. Hal itu membuat Prancis menarik duta besarnya dari Ankara.


×