Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika

X-Kisah

29 Oct 2020, 05:30 WIB

Sejak Kapan Orang Berdiri Saat ‘Indonesia Raya’ Dinyanyikan?

Di rapat umum hari terakhir itu pula, lagu Indonesia Raya dimainkan.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Soegondo Djojopoespito pernah mengalami ketemu macan. Berlima sebagai anggota inti Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Soegondo termasuk yang bikin pamflet untuk menyadarkan kalangan muda pentingnya persatuan. Ini adalah upaya persiapan Kongres Pemuda Indonesia Kedua yang diketuai Soegondo.

Selain bertugas membuat pamflet, mereka juga harus menghubungi pemuda-pemuda dan mahasiswa-mahasiswa baru. Mahasiswa baru STOVIA boleh menjadi anggota PPPI karena mereka belum diakui sebagai mahasiswa oleh Bataviasche Studenten Corps. Mahasiswa di Recht Hoogeschool yang jumlahnya tak sampai 50 orang juga dihubungi.

Gerakan penyadaran juga menyasar generasi di atas mereka. Soegondo bertugas menyadarkan Agus Salim dan Kusumo Utoyo. Di sinilah ia bertemu macan.

"Tetapi, di hadapan Pak Salim dan Pak Kusumo Utoyo, saya tidak bisa bicara apa-apa, hanya menjawab pertanyaan mereka tentang profesor-profesor di sekolah saya, siapa dari mereka yang kuliahnya sukar dimengerti, mata pelajaran apa yang saya anggap paling berat; menjawab pertanyaan tentang hobi saya, tentang keadaan yang khusus aneh di daerah asal saya, dan tetek bengek lainnya," ujar Soegondo dalam tulisannya yang dimuat di majalah Media Muda, November 1973.

photo
Patung dada Soegondo Djodjopuspito yang terletak di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta. - (DOK Wikipedia)

Sepuluh tahun kemudian, Agus Salim mempersoalkan penyebutan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Itu ia lakukan setelah pelaksanaan Kongres Bahasa Indonesia Pertama pada 1938. Salah satu putusan Kongres Pemuda Indonesia Kedua adalah menunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, sementara saat itu bahasa Indonesia belum ada.

Selama kongres berlangsung, simbol merah putih menjadi aksesori ruangan. Para pandu melakukan arak-arakan sepeda, membawa bendera merah-putih kecil. Begitu polisi melihatnya, mereka harus menelan pil pahit. Bendera-bendera kecil itu dirampas.

 
Selama kongres berlangsung, simbol merah putih menjadi aksesori ruangan.
 
 

"Bahkan, lebih pahit lagi, sang dwiwarna dirobek-robek di hadapan kami yang tak berdaya apa pun dan nama kami ditulis pula dalam buku catatan 'saudara sebangsa' sang polisi," ujar Frits KN Harahap di buku 45 Tahun Sumpah Pemuda. Di kemudian hari, karena aktivitasnya ini, ia ditolak masuk Hogere Burgerschool pada 1930.

Di Kongres Pemuda Indonesia Kedua ini, Soegondo (ketua), Muh Yamin (sekretaris), dan Amir Syarifuddin (bendahara) bertanggung jawab atas berbagai hal, termasuk merumuskan resolusi. Di rapat umum hari terakhir, saat pembicara terakhir menyampaikan pidatonya, Yamin yang duduk di sebelah kanan Soegondo menyerahkan secarik kertas. Sambil berbisik, "Ik he been eleganter formulering voor de resolutie (Saya mempunyai rumusan resolusi yang lebih luwes)," ujar Soegondo.

photo
Foto para pendiri Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) dari arsip Museum Sumpah Pemuda. - (DOK Wikipedia)

Setelah membaca, Soegondo lalu menulis acc dan membubuhkan tanda tangannya. Demikian pula Amir Syarifuddin yang juga menyetujui setelah membacanya.

"Saya heran mengapa Yamin menyodorkan perubahan rumusan resolusi pada waktu dan tempat yang tidak wajar itu. Saya kira karena Yamin itu seorang sastrawan dan khawatir jika perubahan rumusan dibicarakan dalam rapat yang wajar, diamendir, diubah, sehingga rusak surat kata-kata dan susunan kalimatnya," ujar Soegondo.

Selama kongres berlangsung, kata Frits Harahap, desakan agar ada resolusi terus bermunculan. Di akhir rapat umum, Soegondo tampil membacakan resolusi rumusan Yamin yang diberi judul Ikrar Pemuda.

photo
Foto Mohammad Yamin - (DOK Wikipedia)

Rumusan itu pernah dibahas pada Kongres Pemuda Pertama, 2 Mei 1926. Tak menemukan titik temu soal bahasa Melayu dan bahasa Indonesia --rumusan tak jadi dibacakan di Kongres Pemuda Indonesia Pertama-- akhirnya disepakati dibacakan di Kongres Pemuda Indonesia Kedua.

Ternyata, Yamin bersedia menampung usulan M Tabrani. Ia mengganti menjunjung bahasa persatuan, bahasa Melayu menjadi menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

 
Ia mengganti menjunjung bahasa persatuan, bahasa Melayu menjadi menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
 
 

Di rapat umum hari terakhir itu pula, lagu Indonesia Raya dimainkan. Soegondo agak cemas karena lirik lagu itu banyak kata Indonesia. Kata yang pada hari pertama kongres dipermasalahkan polisi Belanda.

Soegondo lalu meminta nasihat kepada Van der Plas, wakil penasihat Urusan Pribumi, yang datang mengunjungi kongres. "Jangan tanya kepada saya, tetapi kepada tuan yang ada di sana itu," jawab Van der Plas, seperti ditirukan Soegondo.

Melihat ke arah orang yang ditunjuk, Soegondo urung bertanya karena yang ditunjuk adalah komisaris polisi yang pada hari pertama mempermasalahkan kata Indonesia. Ia lalu meminta WR Supratman tak menyanyikan liriknya. Supratman setuju, lalu memainkan biolanya.

photo
Charles Olke van der Plas - (DOK Wikipedia)

Saat itu, orang-orang belum berdiri ketika Indonesia Raya dimainkan. Lalu, sejak kapan orang-orang berdiri khidmat ketika lagu Indonesia Raya ditampilkan?

Beberapa minggu setelah kongres, Soegondo dan Soewirjo menghadiri rapat di gedung Katholieke Bond. Supratman juga memainkan Indonesia Raya di rapat ini dengan biolanya. Saudara Soewirjo menarik baju saya dan berkata "'Ndo, het lied van jouw congres, sta op' (Ndo, itulah lagu kongresmu, berdirilah). Saya berdiri diikuti oleh Saudara Soewirjo," kata Soegondo.

Melihat mereka berdiri, yang lain pun ikut berdiri. Mendengar orang-orang di belakang berdiri, orang-orang di bagian depan lalu menoleh dan kemudian ikut berdiri juga.

Beberapa minggu kemudian, mereka menghadiri rapat di Gedung Kesenian. Supratman juga memainkan Indonesia Raya. Lagi-lagi, mereka berdiri saat Indonesia Raya dimainkan dan lagi-lagi diikuti hadirin. Tidak lama kemudian, PNI mengangkat lagu 'Indonesia Raya' sebagai lagu kebangsaan (barangkali atas usul Saudara Soewirjo). "Dengan cepat sekali, orang banyak menganggap 'Indonesia Raya' sebagai lagu kebangsaan," kata Soegondo.


×