Putra M. Akbar/Republika

Meracik Kopi dengan Mata dan Hati

Memiliki keterbatasan bukan menjadi alasan untuk tidak berjuang dalam meraih kesuksesan. Perumpamaan itulah yang sedikit menggambarkan kisah  Ahmad Hilmy Almusawa (22), seorang barista tuna netra sekaligus pemilik kedai kopi bernama Mata Hati Koffie yang berlokasi di kawasan Pondok Cabe Ilir, Tangerang Selatan, Banten.

 

Berawal dari kesukaannya meracik kopi, Hilmy mengikuti pelatihan di salah satu kedai kopi. Setelah mempelajarinya, pria yang masih mengenyam bangku kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta itu mulai memberanikan diri menjual racikan kopinya dalam bentuk sachet yang produknya dipasarkan melalui daring. Setelah sukses dengan usaha kopi sachet bernama Blind Coffee Me yang dirintisnya selama dua tahun, Hilmy mulai memberanikan diri untuk mengepakan sayap bisnisnya dengan membuka kedai kopi Mata Hati Coffie  pada Februari 2020.

 

Di Mata Hati Coffie, Hilmy juga memberdayakan sesama penyandang tuna netra  untuk menjadi partner kerjanya yaitu Ahmad Ruyani (22) yang menyandang low vision. Pembagian kerjanya juga terbilang unik, untuk  Hilmy sebagai tuna netra total memiliki keahlian dalam menyajikan kopi jenis Espresso dan Tubruk sedangkan Ahmad yang menyandang low vision ahli dalam menyajikan kopi jenis Vietnam Drip dan V60. Kolaborasi kerja sama tersebut dilakukan untuk  menyiasati kecepatan menyajikan kopi kepada pelanggan.

Barista tuna netra menggunakan indra pendengaran, peraba dan perasa dalam meracik kopi.

Sebagai barista difabel, sudah barang tentu cara Hilmy meracik kopi sedikit berbeda dengan barista pada umumnya. Fasilitas yang digunakan pun lebih beragam seperti toples biji kopi yang diberikan tulisan braile, alat pengukur waktu dan rekaman suara yang dipergunakan sebagai tuntunan dalam mengukur takaran kopinya.  Ketika indra pengelihatannya tidak sesempurna manusia pada umumnya, barista Mata Hati Koffie menggunakan indra pendengaran, peraba dan perasa dalam meracik kopi hidangannya.

 

Dengan slogan yang bertuliskan “Rasa Tak Perlu Mata dan Cahaya, Kami Meracik Dengan Hati dan Cinta”, Hilmy menegaskan dia tidak menjual keterbatasannya dalam bisnis kopi tersebut. “Mata Hati Koffie tetap menjual rasa kopi bukan rasa kasihan terhadap kami para penyandang tuna netra,” ujar Hilmy.

Meracik Kopi dengan Mata dan Hati